Selasa, 04 Oktober 2011

“Dalam suatu sejarah, kebenaran kecil-kecil bisa diubah sedemikian rupa sehingga muncul kebenaran yang lebih besar.”

Masih ingat Forrest Gump? Baudolino akan mengingatkan anda pada Forrest Gump. Bukan pada keluguan Gump, melainkan pada model cerita yang dipakai Winston Groom untuk menyisipkan tokoh Forrest Gump, yang notabene adalah tokoh fiksi, ke dalam berbagai peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi. Umberto Eco dengan brilian juga merangkai kisah Baudolino dengan cara yang sama. Bedanya, Eco menyisipkan tokoh fiktif Baudolino ke dalam sejarah abad pertengahan, khususnya di sekitar abad ke 12.

Baudolino adalah putra Gagliaudo yang tinggal di Frascheta, Italia. Dari kecil ia mampu berbicara bahasa asing hanya dengan mendengar beberapa kata dalam suatu bahasa. Namun bakat Baudolino yang paling “hebat” adalah berbohong. Kedua kemampuannya itu berguna saat ia bertemu dengan seorang Jerman bernama Frederick dalam sebuah penyerbuan Jerman ke Terdona. Belakangan terungkap bahwa Frederick ini adalah Frederick “Barbarossa”, sang Raja Jerman pada tahun 1152 yang kelak diangkat menjadi Kaisar Roma oleh Paus pada 1155. Karena kecerdasannya (separuhnya adalah hasil bualan tentu saja!), maka Frederick lalu mengangkat Baudolino menjadi anaknya.

Selanjutnya Baudolino meninggalkan ayahnya dan mengikuti Kaisar Frederick I ini kemana pun ia pergi, sementara Frederick mengajarinya baca-tulis. Saat itu Frederick baru saja mengalahkan Terdona, dan sedang kembali ke Jerman. Itulah awal kisah Baudolino yang lalu ia ceritakan kepada seseorang bernama Niketas.

Dalam sejarah, Niketas Choniates adalah seorang sejarawan Yunani yang pernah menjadi kanselir dari Basileus (Raja) Byzantium. Pertemuan Baudolino dan Niketas terjadi ketika pecah Perang Salib yang ke-4 di Konstantinopel pada tahun 1204 yang meruntuhkan kerajaan Byzantium. Dalam keadaan kritis, Baudolino menyelamatkan Niketas dari pembunuhan oleh para Saracen (istilah yang mengacu pada bangsa Arab). Maka dalam proses menyelamatkan diri dari perang, Baudolino pun menceritakan seluruh kisahnya pada Niketas dari semenjak ia tinggal di istana Frederick I, agar Niketas kelak dapat menulisnya sebagai sejarah.

ilustrasi saat hancurnya Konstantinopel

Lalu kisah petualangan Baudolino pun mengalir mengikuti alur sejarah, di mana Baudolino tampaknya selalu “tak sengaja” hadir dan terseret dalam peristiwa-peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah. Menjadi saksi perebutan Terdona oleh Frederick dan terlibat dalam Perang Salib 2, hanyalah dua di antara banyak petualangan serunya. Lebih unik lagi, Baudolino seolah turut mengubah jalannya sejarah, bukan dengan tindakan heroisme melainkan justru dengan kebohongannya.

Ketika ia dititipkan pada Kardinal Otto von Preising untuk belajar, Baudolino terlibat dalam penyusunan sebuah dokumen kuno. Saat itu Otto sedang melanjutkan menulis chronica sive historia de duabus civitatibus, dokumen yang mengisahkan sejarah dua kota: Yerusalem dan Babel. Malangnya chronica itu tiba-tiba menghilang sehingga Otto harus menulis ulang. Frederich lalu menyuruh Otto memasukkan pujian terhadap Frederich ke chronic yang baru itu, agar Frederich dikenang sepanjang masa, yang akhirnya dikenal sebagai Gesta Friderici Imperatoris (Kebaikan-Kebaikan Kaisar Frederick).

Tanpa diduga, ternyata Baudolino lah biang keladi chronica yang hilang itu. Ia ingin sekali belajar menulis namun tak memiliki perkamen kosong. Maka ia mengambil sembarang perkamen (yang ternyata adalah chronica itu!), mengerik tulisannya sehingga ia punya perkamen kosong untuk ia tulisi. Bayangkan! Perkamen itu kelak dihilangkan Baudolino, karena itulah kini ia harus menceritakan kisahnya pada Niketas berdasarkan ingatannya belaka. Ingatan seorang pembohong yang penuh kebohongan dan tak dapat dipercaya.

Sebelum Otto meninggal, ia mengamanatkan Baudolino untuk mencari seorang raja atau imam yang hingga saat itu tak diketahui keberadaannya, dan hanya dikenal sebagai Prester John atau Presbyter John. Dalam kenyataannya, Presbyter John dipercaya sebagai Yohanes dari Patmos, penulis Kitab Wahyu dalam Alkitab Perjanjian Baru. Sementara ada juga yang mengatakan bahwa Yohanes dari Patmos dan Yohanes sang rasul Yesus adalah satu orang yang sama. Belum diketahui pasti hingga sekarang teori mana yang benar.

Prester John sendiri merupakan legenda yang merujuk pada sebuah kerajaan di daratan Asia (mungkin di India atau Ethiopia), di mana umat Kristiani hidup tanpa cacat sesuai perintah Allah. Ada yang mengatakan Prester John adalah keturunan dari orang Majus (tiga orang asing yang mengikuti bintang Daud sehingga menemukan tempat Yesus lahir di Betlehem). Legenda yang simpang siur ini menjadi sasaran empuk Umberto Eco untuk menempatkan Baudolino.

Sesuai amanat Otto, Baudolino harus menemukan Presbyter John untuk dipertemukan dengan Frederick agar Perang Salib tidak berkelanjutan. Namun karena Baudolino pun tak mampu menemukan Presbyter John, maka sesuai karakternya ia pun mulai "menciptakan" si Presbyter John ini. Ia mulai dengan "merancang" istana yang sesuai untuk Presbyter John, lalu mengarang surat dari Presbyter John untuk Frederick. Bahkan ia “menciptakan” Grasal (Holy Grail) yaitu cawan yang konon dipakai Yesus saat Perjamuan terakhir, yang menjadi legenda namun “dihidupkan” oleh Baudolino. Konyol juga mengikuti petualangan Baudolino ini, dan dengan membaca buku ini anda akan dibuat benar-benar kehilangan arah antara kenyataan dan bualan.

Lewat kisah konyol Baudolino, sebenarnya kita juga diajak untuk belajar sejarah. Lihat saja ketika Baudolino mengisahkan tentang Frederick I pada Niketas, secara tak langsung kita akan mengetahui bagaimana Frederick I yang orang Jerman bisa dinobatkan menjadi Kaisar Roma oleh Paus. Bagaimana proses kelahiran kota Alessandria dan kanonisasi (proses menjadikan seseorang santo) Charlemagne. Selain itu kita juga diajak melihat bagaimana keserakahan dan kesombongan para penguasa abad itu, baik negara maupun gereja. Bagaimana Frederick berusaha menjadi yang paling berkuasa, hingga menghalalkan segala cara. Dari peperangan, pembunuhan, hingga kebohongan.

Pada akhirnya kurasa Umberto Eco ingin mengingatkan kita bahwa di dunia ini segalanya berlaku terbalik. Kebohongan dan hal-hal fana menjadi sesuatu yang dipercayai manusia. Sementara kebenaran yang sesungguhnya justru dianggap absurd. Hal yang sama terjadi pada Baudolino, dalam petualangannya, tiap kali ia menciptakan kebohongan, kebohongan itu akan membawa kesuksesan. Sebaliknya tiap kali mengatakan kebenaran (yang jumlahnya dapat dihitung jari), ia mengalami kesialan, seperti yang ia katakan di hlm 745 buku ini: “Kau lihat sendiri. Pertama kali dalam hidupku aku mengatakan yang benar dan hanya kebenaran, mereka melempariku dengan batu.”

Dan inilah jawaban Niketas kepadanya: “Itu juga terjadi dengan para rasul.” Dan memang itulah tantangan bagi kita yang ingin melakukan kebenaran, kita takkan pernah diterima oleh dunia karena dunia memang lebih suka pada kebohongan.

Baudolino adalah sebuah kisah yang lengkap. Anda akan menemukan sejarah, kekonyolan, mitos dan legenda, sekaligus misteri dalam sebuah buku setebal 750 hlm ini. Sayang penerjemahannya kurang bagus, tapi mungkin itu disebabkan kalimat dan paragraf-paragraf yang terlalu panjang. Di bagian akhir cerita jadi agak membosankan dan tak masuk akal, namun Umberto Eco berhasil menutup kisah ini dengan sesuatu yang bermakna. Tetap saja, dengan semua kekurangan itu, tiga bintang kuberikan untuk Baudolino!

Judul: Baudolino
Penulis: Umberto Eco
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2006
Tebal: 750 hlm

Saga No Gabai Baachan

Saya memberi bintang 4 untuk buku ini karena saya suka memoar. Terlebih lagi yang inspiratif. Meski menurut saya tidak ada memoar sebaik Totto Chan, buku ini luar biasa.
Baiklah, sebelum kita membicarakan Saga No Gabai Baachan, saya ingin anda membaca paragraf ini. Sering kita dengar tentang seseorang yang begitu mengidolakan seseorang lainnya dan begitu inginnya ia bertemu dengan pujaan hati itu. Tapi ketika terwujud keinginannya, ia malah menangis histeris atau tak bisa berkata kata. Anda bisa melihat kisah seperti ini di acara acara televisi mengenai orang muda yang ingin bertemu artis pujaannya. Ketika menulis ini saya teringat sebuah foto tentang rakyat jelata yang bertemu presiden Soekarno. Si rakyat itu begitu kagumnya dengan sang negarawan sehingga ia menangis dan bersimpuh di kaki beliau.
Menurut anda, mengapa seseorang bisa sampai sedemikian “gilamengidolakan selainnya? Bagaimana bisa orang orang yang kuat dan perkasa rela menggotong seorang ringkih dan sakit sakitan seperti Jendral Soedirman? Ada banyak jawaban tentunya, tapi menurut saya seseorang diidolakan karena ia memiliki “kekuatan. Dan “kekuatanserupa itulah yang membuat saya segera menaruh hormat yang mendalam kepada nenek Osano, tokoh utama dalam buku ini.
Nenek Osano adalah nenek Akihiro Tokunaga (Yoshichi Shimada) sang empunya cerita. Ia adalah seorang yang sangat miskin. Namun kemiskinan tidak membuatnya bersedih hati ataupun mengeluh. Sebaliknya, ia adalah orang yang selalu bersyukur dengan hidupnya. Nenek berusia 58 tahun ini mencari penghidupan dengan menjadi tukang bersih bersih di sebuah Universitas.
Akihiro, sang cucu, awalnya hidup di Hiroshima bersama ibunya yang menjanda setelah kematian ayahnya akibat bom atom. Namun, kekhawatiran sang ibu dengan pendidikan Akihiro sang ibu harus bekerja keras sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk mengawasi Akihiro memaksanya untuk menitipkan Akihiro pada neneknya di Saga. Pengalaman Akihiro bersama neneknya di Saga inilah yang ditulis oleh Yoshichi.
Kemiskinan yang diderita oleh nenek Osano ternyata membuat sang nenek memiliki budi yang hebat dan pekerti yang luhur. Ia memasang galah di sungai dekat rumahnya sehingga sayur-mayur jelek yang dibuang di pasar dapat tersangkut di galah tersebut. Ia mengikatkan tali ke tubuhnya dan mengikatkan juga sebuah magnit di ujung tali lainnya, kemudian menyeret magnit itu ketika berjalan pulang dari bekerja. Di magnet itulah menempel logam logam yang dikumpulkannya untuk kemudian dijual. Bukankah ini budi yang hebat?

Soal pekerti yang luhur, ada sebuah adegan yang mengisahkannya. Suatu saat seorang sepupu nenek Osano bertandang ke rumah untuk meminjam uang. Ditulis dalam lembar adegan ini keheranan Akihiro. Bagaimana seorang yang muda dan masih mampu berusaha bisa meminjam uang kepada seorang tua yang mengalami kesulitan hidup? Tapi tanpa banyak berkata – kata, sang nenek pun mengambil uang simpanannya dan meminjamkannya!
Mengenai kejadian ini, Yoshichi Shimada menulis di halaman 199:
“Bila dipikir – pikir, kehidupan kami sehari – hari tidaklah selalu mudah, namun jika melihat kejadian seperti ini, aku benar – benar tidak tahu apakah nenek memang pelit atau malah royal. Sungguh nenek yang aneh.”
Kadang orang menyebut orang yang memiliki banyak pengalaman sebagai orang yang telah banyak makan asam garamnya kehidupan. Dan memang kesulitan – kesulitan hidup akan selalu melahirkan kebijaksanaan. Saya rasa kesulitan hidup yang diderita nenek Osano membuatnya memandang uang sebagai alat, dan bukan sebagai tujuan hidup. Karena uang adalah alat, maka ia menggunakannya seperlunya saja. Yang saya maksud dengan seperlunya adalah berhemat ketika memiliki uang dan tidak terbebani ketika tidak memiliki uang.
Saya tidak tahu apakah kemiskinan yang diderita oleh Yoshichi dan Neneknya merupakan musibah atau berkah. Namun, menurut saya, jika Yoshichi tidak mengalami hidup miskin ketika kecilnya dan juga tidak mengalaminya bersama sang nenek, kemungkinan besar ia tidak menjadi seperti sekarang ini; menjadi seorang entertainer yang sukses.
Saat ini saya melihat banyak orang tua yang menitipkan anak – anak mereka kepada nenek dan kakek sang anak karena alasan kesibukan mencari nafkah di kota. Namun jatah uang yang dikirimkan orang tua ditambah dengan kakek nenek yang memanjakannya malah membuat hidup sang anak menjadi berantakan. Sepanjang yang saya ketahui, anak yang dititipkan kepada nenek dan kakeknya seperti ini menjadi anak yang bermasalah di sekolah.
Karena itu, buku ini sudah selayaknya dibaca oleh anak, orang tua dan juga kakek nenek. Pengalaman orang lain terlalu sayang untuk hilang dan dilupakan sebagaimana matinya orang yang memiliki pengalaman itu. Pengalaman orang lain sedemikian berharganya sehingga kita perlu memungutnya untuk kita jadikan pelajaran.

Informasi Buku:
Buku 17
Judul: Saga No Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis: Yosichi Shimada
Penerbit: Kansha Books
Tebal: 
245 halaman
Cetakan: 
I, April 2011